banner 728x250

Krisis Air Bersih di Anambas, Dinas PUPR Siapkan Skema Pelayanan Baru

Foto:Soearanesia.com/CJ-01, Kepala Dinas PUPR Anambas, Andyguna menyebutkan, kondisi air bersih di sejumlah waduk kini telah kritis. Pelayanan penyaluran air kini telah dipangkas menyesuaikan debit air, Kamis (2/4/2026)

Soearanesia.com, Anambas – Krisis air bersih mulai dirasakan warga Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) seiring menyusutnya debit air di sejumlah waduk.

Dinas PUPR melalui UPTD SPAM pun terpaksa memangkas jadwal distribusi air, terutama di wilayah perkotaan Tarempa dan sekitarnya.

Hasil rapat internal, Dinas PUPR melalui UPTD SPAM telah merumuskan langkah mitigasi untuk menjamin pasokan air bersih, khususnya di wilayah Pulau Siantan.

“Debit air di sumber air baku kita saat ini sudah dalam kondisi kritis. Dua waduk utama kita mengalami penurunan signifikan,” ungkap, Kepala Dinas PUPR Anambas, Andyguna, Kamis (2/4/2026).

Ia mengemukakan, Waduk Gunung Samak yang normalnya mampu menampung hingga 60 ribu meter kubik air, kini hanya tersisa sekitar 15 ribu meter kubik.

Sementara Waduk Gunung Lintang yang berkapasitas 20 ribu meter kubik, saat ini tinggal menyisakan sekitar 4 ribu meter kubik.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pelayanan distribusi air bersih.

Sejumlah wilayah, terutama di kawasan perkotaan Tarempa, mulai mengalami pengurangan jam layanan.

“Untuk wilayah Kelurahan Tarempa, Desa Tarempa Barat, dan Desa Sri Tanjung, jadwal pelayanan yang sebelumnya dua hari sekali kini menjadi tiga sampai empat hari sekali,” jelasnya.

Durasi aliran air juga mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya air mengalir pagi dan sore dengan durasi sekitar dua jam, kini dipangkas menjadi hanya satu jam setiap jadwal distribusi.

Meski demikian, pihak UPTD SPAM memastikan pelayanan tetap berjalan dengan menyesuaikan kapasitas air yang tersedia.

“Kami tetap berupaya melayani masyarakat, hanya saja jadwalnya kami sesuaikan dengan kondisi air yang ada saat ini,” tegasnya.

Sementara itu, beberapa wilayah lain seperti Desa Tarempa Timur dan Desa Tarempa Selatan masih mendapatkan pelayanan normal tanpa pengurangan jam distribusi.

Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih buruk, Dinas PUPR telah menyiapkan skema darurat jika sumber air baku semakin menipis atau habis.

“Kami akan menyuplai air langsung ke masyarakat melalui hydrant umum atau toren air di titik-titik rawan krisis,” ujarnya.

Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan dinas teknis lain yang memiliki armada dan tangki air guna mendukung distribusi air bersih ke warga.

Menurut Andyguna juga, berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau di wilayah Anambas diperkirakan berlangsung hingga tiga bulan ke depan.

Sementara hasil perhitungan internal menunjukkan ketersediaan air saat ini hanya mampu mencukupi kebutuhan masyarakat dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan.

“Sumber air baku di Anambas ini berasal dari cekungan air permukaan, bukan air tanah. Bahkan menurut BWS, wilayah Anambas tidak termasuk dalam cekungan air tanah,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam menggunakan air.

“Kami mengimbau masyarakat agar berhemat dalam penggunaan air, karena kondisi kemarau ini diprediksi berlangsung cukup lama,” pungkasnya. (CJ-01)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *