banner 728x250

Kasus Keracunan MBG Anambas Diusut, Tim Investigasi BGN Periksa Dapur hingga Rumah Sakit

Foto:Soearanesia.com/istimewa, Kasus Keracunan MBG Anambas Diusut, Tim Investigasi BGN Periksa Dapur hingga Rumah Sakit, Jumat (24/4/2026)

Soearanesia.com, Anambas – Dugaan keracunan massal usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kepulauan Anambas akhirnya mendapat perhatian serius dari pusat.

Badan Gizi Nasional (BGN) menurunkan tim investigasi independen untuk membongkar penyebab insiden yang menyeret ratusan pelajar dan warga itu.

Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, datang langsung ke Anambas bersama sejumlah stafnya guna mengumpulkan fakta lapangan, menelusuri rantai produksi makanan, hingga memastikan penanganan korban berjalan maksimal.

Kedatangan Arie ke wilayah perbatasan Provinsi Kepulauan Riau itu menjadi kunjungan pertamanya.

Namun, bukan panorama laut Anambas yang menjadi tujuan, melainkan penelusuran kasus yang menyita perhatian publik dalam beberapa hari terakhir.

Fokus utama tim investigasi adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah, yang menjadi dapur penyedia MBG dan diduga berkaitan dengan kasus keracunan tersebut.

Dari Pelabuhan Sri Siantan, Tarempa, Arie bersama rombongan bergerak menuju Air Asuk.

Setibanya di lokasi, ia disambut pihak yayasan mitra MBG beserta staf dapur SPPG.

Tanpa menunda waktu, Arie langsung menuju Puskesmas Siantan Tengah.

Di sana, ia berdiskusi dengan kepala puskesmas dan tenaga kesehatan untuk menggali informasi mengenai jumlah korban, gejala yang dialami, serta langkah penanganan medis yang telah dilakukan.

Setelah hampir satu jam melakukan pendalaman, tim melanjutkan kunjungan ke SD Negeri 001 Air Asuk.

Di sekolah itu, Arie berdialog dengan guru dan siswa guna mengetahui dampak insiden tersebut terhadap kegiatan belajar mengajar.

Tim investigasi juga mendatangi rumah salah satu pelajar korban guna mendengar langsung keluhan serta harapan dari keluarga.

Perjalanan berlanjut ke RSUD Palmatak, Kecamatan Kute Siantan. Rumah sakit itu menjadi fasilitas kesehatan utama yang menangani para pasien saat kejadian.

Meski harus kembali menempuh perjalanan laut menggunakan speed boat, tim tetap mendatangi lokasi demi melengkapi data investigasi.

“Kami dari BGN tetap mengumpulkan data primer. Jadi kami harus mengambil informasi mulai dari dapur pembuatan makanan hingga pihak yang menangani korban secara langsung. Itu sebabnya kami datang ke Anambas,” ujar Arie, Jumat (24/4/2026).

Ia menegaskan, pihaknya juga menelusuri keberadaan sampel makanan, lokasi pengujian laboratorium, serta pihak yang memeriksa sampel tersebut.

“Kami ingin mengetahui sampel makanan itu dikirim ke mana dan siapa yang mengujinya, agar kami tahu penyebab pastinya,” katanya.

Menurut Arie, hasil investigasi awal akan segera disusun dan disampaikan kepada pihak terkait sambil menunggu hasil uji laboratorium dari Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Batam.

“Nanti malam kami akan membuat laporan awal untuk pihak-pihak yang membutuhkan informasi sambil menunggu hasil laboratorium,” ujarnya.

Ia menambahkan, pernyataan resmi akhir dari investigasi akan menjadi dasar Tim Pemantauan dan Pengawasan BGN dalam menentukan apakah operasional SPPG Air Asuk dapat dibuka kembali atau masih memerlukan perbaikan.

Selain soal penyebab keracunan, tim juga menyoroti kondisi psikologis para siswa yang terdampak.

“Dari pantauan kami, anak-anak dominan mengalami trauma. Karena itu, kondisi psikis mereka perlu ditangani dengan baik,” ucapnya.

Arie mengapresiasi dukungan tenaga medis RSUD Palmatak, jajaran kepolisian, serta unsur pendidikan yang siap membantu pelaksanaan trauma healing bagi para pelajar.

Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan Anambas, hasil laboratorium BPOM diperkirakan keluar pekan depan.

“Informasi yang saya dapat, hari Selasa depan BPOM akan mengeluarkan hasilnya. Di hari itu juga kami dari BGN akan merilis secara resmi penyebab keracunan di Anambas,” katanya.

Saat ditanya mengenai tanggung jawab terhadap korban, Arie memastikan biaya pengobatan dan rumah sakit ditanggung BGN bersama pihak yayasan mitra.

“Kami sudah sampaikan kepada keluarga agar tidak khawatir, seluruh biaya kami tanggung,” tegasnya. (CJ-01)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *