Soearanesia.com, Anambas – Di tengah gempuran perahu berbahan fiber dan sulitnya mendapatkan kayu berkualitas, para pengrajin pompong di Kabupaten Kepulauan Anambas masih bertahan menjaga usaha tradisional yang menjadi denyut ekonomi masyarakat pesisir.
Kondisi itu mendapat perhatian langsung dari Babinsa Koramil 02/Tarempa Kodim 0318/Natuna, Sertu M Idris Hasibuan, saat melaksanakan komunikasi sosial (Komsos) di galangan perahu milik Dedi, pengrajin pompong di Desa Air Putih, Kecamatan Siantan Timur, Kamis (28/5/2026).
Dalam kunjungannya, Babinsa tidak hanya menyambangi warga binaan, tetapi juga mendengar langsung berbagai persoalan yang dihadapi para pembuat perahu kayu, mulai dari mahalnya bahan baku hingga persaingan usaha yang semakin ketat.
“Pompong ini bukan hanya alat transportasi bagi masyarakat pesisir, tetapi juga bagian dari budaya dan sumber penghasilan warga Anambas. Karena itu kami ingin melihat langsung kondisi para pengrajin dan mendengar apa yang menjadi kendala mereka,” kata Sertu M Idris Hasibuan.
Ia menegaskan, Babinsa memiliki tanggung jawab untuk terus hadir di tengah masyarakat dan membantu menjembatani kebutuhan warga dengan pemerintah daerah maupun instansi terkait.
“Kalau ada persoalan di lapangan, kami akan coba koordinasikan dan teruskan ke pihak terkait. Harapannya usaha masyarakat seperti ini tetap berjalan dan terus berkembang,” ujarnya.
Selain berdialog soal usaha, Babinsa juga mengingatkan warga agar selalu mengutamakan keselamatan saat melaut serta menjaga kebersihan lingkungan pesisir dengan tidak membuang sampah sembarangan ke laut.
Sertu Idris menambahkan, komunikasi sosial dengan pelaku usaha lokal menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah binaan.
“Babinsa harus peka terhadap potensi desa. Melalui komunikasi sosial seperti ini, kami bisa mengetahui kondisi warga sekaligus mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat,” tegasnya.
Di galangan sederhana yang berada di tepi pantai itu, Dedi bersama beberapa pekerja tampak sibuk menyelesaikan pembuatan perahu kayu pesanan nelayan.
Menurut Dedi, usaha pembuatan pompong sudah dijalani keluarganya secara turun-temurun.
Namun belakangan, mereka mulai kesulitan memperoleh kayu berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Selain itu, perahu berbahan fiber dinilai mulai menjadi pesaing baru bagi pengrajin tradisional.
“Kendala kami sekarang memang bahan baku kayu yang semakin susah didapat dan harganya mahal. Ditambah lagi banyak orang mulai beralih ke perahu fiber,” ungkap Dedi.
Meski begitu, ia mengaku senang karena Babinsa rutin datang dan memberikan perhatian kepada masyarakat kecil di desa.
“Kami merasa diperhatikan. Mudah-mudahan ke depan ada bantuan atau pelatihan supaya usaha pembuatan perahu ini bisa terus bertahan,” katanya. (CJ-01)









