Soearanesia.com, Anambas – Upaya menjaga warisan budaya di tengah kehidupan perantauan terus dilakukan Ikatan Keluarga Batak Saroha Anambas (IKBASA).
Melalui pelatihan Tari Tradisional Batak Tor-Tor, organisasi ini mengajak anak-anak dan generasi muda Batak di Kabupaten Kepulauan Anambas untuk lebih mengenal akar budaya dan identitas leluhurnya.
Workshop yang digelar di Sekretariat IKBASA Anambas ini merupakan dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
Dukungan terhadap kegiatan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan ini berlangsung selama dua hari 12 hingga 13 Juni 2026.
Lebih dari 50 peserta yang terdiri dari anggota keluarga besar IKBASA mengikuti kegiatan ini.
Tidak hanya belajar gerakan tari Tor-Tor, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai sejarah suku Batak, silsilah marga, adat istiadat, hingga berbagai nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Suasana pelatihan berlangsung hangat dan penuh antusias. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak aktif mengikuti setiap sesi yang diberikan.
Kegiatan juga diisi dengan penampilan Tor-Tor dari peserta sebagai bentuk praktik langsung setelah menerima materi.

Pemateri pelatihan, Nyerpi Simanjuntak, mengajak peserta untuk memahami budaya Batak secara utuh, mulai dari asal-usul suku Batak, makanan khas, sistem kekerabatan, hingga makna yang terkandung dalam berbagai tarian tradisional.
Ketua IKBASA Anambas, Edis Manahan Simanjuntak, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menanamkan kecintaan terhadap budaya Batak kepada generasi muda yang tumbuh dan besar di perantauan.
“Anak-anak kita hidup jauh dari kampung halaman leluhur. Karena itu, kami ingin mereka tetap mengenal budaya, adat, dan identitasnya sebagai orang Batak. Jangan sampai perkembangan zaman membuat mereka melupakan akar budayanya sendiri,” ujar Edis, Sabtu (13/6/2026).
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui cerita dari orang tua, tetapi juga harus diwujudkan melalui kegiatan nyata yang melibatkan generasi muda secara langsung.
Ia mengaku bersyukur karena kegiatan tersebut mendapat dukungan penuh dari seluruh keluarga besar IKBASA.
Semangat kebersamaan yang ditunjukkan para anggota menjadi modal penting dalam menjaga eksistensi budaya Batak di wilayah perbatasan seperti Kabupaten Kepulauan Anambas.
“Dari lubuk hati yang paling dalam, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh Amang, Inang, dan Naposo yang telah bekerja keras serta memberikan dukungan sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik dan penuh sukacita,” katanya.
Edis berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Batak di kalangan generasi muda.
“Semoga melalui kegiatan ini benih-benih budaya Batak semakin tertanam kuat di hati anak-anak kita. Mereka boleh tumbuh menjadi generasi yang modern, tetapi tetap bangga dengan jati diri dan warisan budaya leluhurnya,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan.
Ke depan, IKBASA berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program pelestarian budaya yang dapat mempererat tali persaudaraan masyarakat Batak di Anambas.
“Kami akan terus belajar dan berbenah. Harapannya, kebersamaan keluarga besar IKBASA semakin kuat, sekaligus menjadi wadah untuk menjaga dan mewariskan budaya Batak kepada generasi berikutnya,” pungkasnya. (CJ-01)







