Soearanesia.com, Anambas – Di tengah hamparan rak penjemuran cumi di pesisir Dusun Nelayan, Desa Air Bini, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Sertu Ganda Fitrianto tampak ikut membalik satu per satu cumi yang dijemur di bawah terik matahari.
Momen itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari upaya Babinsa Koramil 02/Tarempa Kodim 0318/Natuna untuk mendampingi pelaku UMKM agar terus berkembang.
Komunikasi sosial (Komsos) yang dilaksanakan pada Minggu (28/6/2026) itu menyasar usaha milik Sumarni, salah seorang perajin cumi kering yang selama ini menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat pesisir Desa Air Bini.
Sambil berbincang mengenai proses produksi, Sertu Ganda juga membantu aktivitas penjemuran serta mendengar langsung berbagai kendala yang dihadapi pelaku usaha.
“Komsos ini kami lakukan untuk memantau perkembangan UMKM maritim di wilayah binaan. Cumi kering Anambas sudah dikenal masyarakat, sehingga kualitasnya harus terus dijaga agar tetap memiliki daya saing,” kata Sertu Ganda.
Ia mengatakan, pentingnya menjaga mutu produk, terutama dari sisi kebersihan selama proses pengolahan.
“Kualitas dan kebersihan menjadi kunci. Mulai dari pencucian, perebusan hingga penjemuran harus diperhatikan. Pembeli dari luar daerah tentu memilih produk yang higienis dengan kualitas rasa yang konsisten,” ujarnya.
Babinsa Sertu Ganda juga mendorong agar usaha tersebut segera memiliki legalitas.
Ia menyarankan produk didaftarkan ke Dinas Perikanan serta Dinas Koperasi dan UKM untuk memperoleh izin PIRT sekaligus mengikuti pelatihan pengemasan produk.
Selain itu, ia menyatakan siap membantu menjembatani koordinasi dengan pemerintah desa maupun kecamatan apabila dibutuhkan dukungan berupa bantuan alat pengering sederhana.
“Kalau UMKM berkembang, ekonomi desa juga ikut tumbuh. Nelayan akan semakin bersemangat melaut karena hasil tangkapannya memiliki pasar yang jelas,” tuturnya.
Sertu Ganda menegaskan, pendampingan terhadap pelaku usaha kecil akan terus dilakukan sebagai bagian dari pembinaan teritorial.
“Babinsa harus hadir di tengah masyarakat. Melalui Komsos seperti ini, kami bisa menjadi penghubung antara warga dengan instansi terkait agar UMKM lokal semakin maju dan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat pesisir,” jelasnya.
Sementara itu, Sumarni mengungkapkan tantangan terbesar yang dihadapi para perajin adalah saat musim hujan.
Ketiadaan rumah pengering membuat proses produksi terganggu sehingga hasil produksi dapat turun hingga 50 persen.
Saat ini, cumi kering ukuran sedang dijual dengan harga berkisar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
Produk tersebut dipasarkan melalui pengepul di Tarempa sebelum dikirim ke Batam menggunakan kapal.
Bagi Ibu Sumarni, perhatian yang diberikan Babinsa menjadi suntikan semangat untuk terus mempertahankan usahanya.
“Terima kasih Pak Babinsa sudah datang dan memberikan masukan. Biasanya tidak ada yang bertanya soal usaha kami. Sekarang jadi lebih semangat untuk mengembangkan usaha ini,” ucapnya. (CJ-01)









