Soearanesia.com, Anambas – Hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Batam akhirnya mengungkap penyebab dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Kabupaten Kepulauan Anambas.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Anambas, Feri Oktavia, menyebutkan sejumlah sampel makanan dan air dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Air Asuk terbukti terkontaminasi bakteri berbahaya.
“Iya, hasil uji laboratorium BPOM Batam sudah keluar. Ditemukan beberapa makanan terkontaminasi bakteri Salmonella dan E Coli,” ujar Feri saat dikonfirmasi, Jumat (1/5/2026)
Ia merinci, telur sambal kecap yang dikonsumsi para korban mengandung bakteri Salmonella.
Sementara itu, air kuah telur kecap serta air bersih yang digunakan di lokasi juga terdeteksi mengandung bakteri E Coli.
“Air di sini termasuk kuah telur kecap dan air bersih di SPPG Air Asuk, keduanya mengandung E Coli,” jelasnya.
Meski demikian, berdasarkan gejala yang dialami para korban, kondisi mereka masih tergolong ringan.
Namun Feri mengingatkan potensi bahaya dari kedua bakteri tersebut tidak bisa dianggap sepele.
“Kalau Salmonella, dampaknya bisa ringan sampai sangat berbahaya, tergantung kondisi tubuh dan jumlah yang masuk. Yang paling parah bisa menyebabkan dehidrasi berat hingga infeksi menyebar ke seluruh tubuh,” ungkapnya.
Sementara itu, infeksi E Coli dalam kondisi tertentu dapat memicu komplikasi serius.
“Kalau E Coli, dampak terberatnya bisa menyebabkan gagal ginjal,” tambahnya.
Dinas Kesehatan Anambas telah mengirimkan hasil uji laboratorium tersebut kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk ditindaklanjuti.
Hingga saat ini, keputusan terkait operasional SPPG Air Asuk masih menunggu rekomendasi dari BGN.
“Apakah tetap beroperasi atau ditutup, kami masih menunggu keputusan dari BGN,” kata Feri.
Pihak Soearanesia.com juga telah berupaya mengonfirmasi Wakil Ketua BGN, Nanik S Deyang, serta Koordinator BGN Anambas, Sahril, melalui pesan WhatsApp.
Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan.
Sebelumnya, ratusan pelajar dan warga di Kecamatan Siantan Tengah diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi hidangan dari program MBG yang dikelola SPPG Air Asuk.
Para korban mengalami gejala seperti sakit perut, muntah, dan pusing, sehingga harus mendapatkan penanganan medis.
Data Dinas Kesehatan mencatat, sebanyak 114 pasien dirawat di RSUD Palmatak, sementara 41 lainnya ditangani di Puskesmas Siantan Tengah.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius, mengingat program MBG merupakan bagian dari upaya peningkatan gizi masyarakat yang seharusnya menjamin keamanan pangan. (CJ-01)








