banner 728x250
Hukum  

Polisi Turun Tangan, Kasus Dugaan Keracunan MBG di Anambas Diselidiki

Foto:Soearanesia.com/CJ-01 Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka (tengah) mengaku jika pihaknya tengah mengumpulkan bahan dan keterangan dugaan keracunan program MBG di Anambas, Kamis (16/4/2026)

Soearanesia.com, Anambas – Kepolisian Resor (Polres) Kepulauan Anambas langsung bergerak cepat menyelidiki dugaan keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa di Kecamatan Siantan Tengah, Kamis (16/4/2026).

Penanganan intensif dilakukan sejak laporan pertama diterima, dengan fokus utama mengungkap penyebab pasti insiden tersebut.

Petugas kepolisian turun ke lokasi kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), mengumpulkan data korban, serta memintai keterangan dari saksi-saksi.

Langkah ini dilakukan guna memastikan kronologi serta sumber penyebab kejadian yang sempat membuat warga panik.

Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, menegaskan pihaknya masih melakukan pendalaman di lapangan.

“Kami masih dalam proses pengumpulan bahan keterangan. Mohon waktu, nanti akan kami informasikan lebih lanjut,” ujarnya.

Ia memastikan, proses penyelidikan akan dilakukan secara komprehensif, termasuk menelusuri dugaan keterkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami akan melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk menelusuri penyebab dugaan keracunan,” tegasnya.

Sebelumnya, puluhan siswa dari berbagai jenjang pendidikan mendadak mengalami gejala seperti sakit perut, mual, muntah, hingga pusing setelah menyantap makanan di sekolah.

Para korban kemudian dievakuasi ke RSUD Palmatak untuk mendapatkan penanganan medis.

Lonjakan pasien membuat fasilitas kesehatan setempat sempat kewalahan.

Direktur RSUD Palmatak, Iswarijaya, mengatakan laporan pertama diterima dari orang tua siswa pada sore hari.

“Kami menerima laporan sekitar pukul 15.00 WIB. Orang tua menyampaikan anak-anaknya mengalami sakit perut, pusing, dan muntah-muntah,” jelasnya.

Pihak rumah sakit pun langsung mengerahkan ambulans untuk menjemput para korban.

“Saya perintahkan staf membawa ambulans ke lokasi agar pasien segera mendapatkan penanganan di RSUD,” tambahnya.

Dari hasil penelusuran sementara, keluhan para siswa diduga muncul setelah mengonsumsi makanan dari sekolah.

“Informasi awal yang kami terima, gejala muncul setelah mereka mengonsumsi makanan di sekolah,” ungkap Iswarijaya.

Jumlah korban yang menjalani perawatan terus meningkat. Dari semula 11 orang, hingga malam hari tercatat sudah mencapai 73 pasien, mulai dari siswa PAUD, SD hingga SMP.

“Jumlah pasien saat ini sudah 73 orang dan kemungkinan masih bertambah,” ujarnya.

Meski demikian, pihak rumah sakit belum dapat memastikan diagnosis akhir karena proses pemeriksaan masih berlangsung. Namun, indikasi awal mengarah pada dugaan keracunan makanan.

Selain siswa, beberapa guru dan orang tua juga dilaporkan mengalami gejala serupa. Sementara itu, Puskesmas Siantan Tengah dilaporkan tidak mampu lagi menampung pasien akibat keterbatasan kapasitas. (CJ-01)

banner 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *